Blog EntrySiapa aku?May 13, '06 8:46 AM
for everyone


Sebelum menceritakan tentang diriku, mohon maaf bila secara tidak sengaja ada pihak yang terlibat dalam perjalanan hidupku kurang berkenan dengan penuturan kisah ini. Mungkin di luasnya dunia yang terkadang terasa sempit, kita bertemu dengan orang-orang yang terkait dengan sejarah hidup kita.

Di desa yang terletak di kaki gunung Merbabu. Seboto nama desaku, masuk kecamatan Ampel, kabupaten Boyolali. Desaku sangat indah  dan selalu membangkitkan rasa rindu untuk pulang. Lokasi desaku amat terpencil sehingga tak ada dokter atau bidan di sana. Puskesmas terdekat kala itu ada di kota kecamatan yang harus ditempuh selama 3 jam dengan berjalan kaki karena belum ada angkutan umum. Terpaksa kelahiranku dibantu oleh dukun beranak di Seboto.

Alhamdulillah aku lahir dengan selamat  sebagai anak kelima dari lima bersaudara, satu-satunya anak perempuan. Saudara tertua adalah saudara tiri seayah, saudara kandungku sendiri yang nomor dua dan tiga meninggal saat masih bayi. Oleh bapak, aku diberi nama Budiyati

Bapak dan emak bekerja sebagai petani yang menggarap ladang pembagian dari kakek. Kata salah seorang tetangga, ketika aku berumur 1 hingga 2 tahun, aku sering diajak ke ladang oleh emak, ditaruh dalam tomblok (bakul). Katanya juga, aku termasuk anak yang  merepotkan dan nakal. Merepotkan dan nakal seperti apa, aku sendiri tidak tahu, mungkin maksudnya pintar dan aktif  


Masa kecil yang sempat terekam memoriku adalah ketika aku kira-kira mulai berumur 2 tahun . Aku sering diajak bapak ke kebun mencari gangsir (belalang tanah) untuk dibakar sebagai tambahan menu makan siang. Tapi bagaimana rasanya gangsir bakar itu , sekarang aku sudah lupa  Sering juga bapak mengajak kami membuat sarapan nasi jagung goreng yang dicampur dengan telur angsa peliharaan kami.

Ya, nasi jagung yang dicampur dengan sampal (ampas ganyong) adalah menu kami sehari-hari. Kalaupun kami makan beras adalah beras gogo yang juga dicampur dengan jagung. Itu sudah menu mewah buat kami. Sedangkan lauknya cukup dengan daun singkong rebus dan sambal tahu dimana sambalnya itu dibuat dari tempe yang sudah dibusukkan. Kalau yang ini masih jadi menu favoritku. Sampai-sampai saat aku hamil, mengidam minta dikirimin tempe busuk kering dari Indonesia

Hanya itu  kebersamaan dengan bapak yang terekam dalam benakku, sampai pada suatu hari datanglah musibah menimpa keluargaku. Saat itu rumahku yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan masih menyatu dengan rumah simbah dari bapak, oleh bapak ingin dipisah. Karena simbah putri dari bapak ini terkenal galak (maafkan cucumu mbah….) kadang suka membuat emak tersinggung.


Waktu itu desaku walaupun dikaki gunung merbabu yang airnya melimpah, karena belum tersentuh pembangunan dan hanya mengandalkan swadaya masyarakat untuk mengalirkan air dari gunung, hanya ada satu pipa yang dialirkan ke bak penampungan besar.Untuk mandi dan mencuci biasanya kami kesungai dipinggir desa yang airnya sangat jernih dan banyak ikannya.

Kembali ke rencana bapak memisahkan rumah kami dengan rumah simbah. Kebiasaan di desaku kalau ada yang mau memperbaiki rumah adalah dengan bergotongroyong. Malam harinya bapak mencoba mengalihkan aliran air ke rumah. Celakanya bapak tidak tahu kalau saat itu airnya sedang dialirkan ke rumah pak Carik (sekretaris desa). Yang ternyata menurut cerita keluargaku antara pak carik dan bapak sudah ada masalah dari muda (sebetulnya aku juga diceritain bagaimana ceritanya tapi nanti malah menceritakan biografi Bapakku ).

Pagi harinya saat bapak, saudara dan tetangga sedang memindahkan dan membetulkan rumah, datanglah pak carik memaki-maki Bapak. Karena telah memutuskan aliran air kerumahnya. Aku yang masih kecil melihat tapi tidak mengerti apa yang terjadi. Mungkin karena tidak bisa mengendalikan emosi mereka berkelahi. Karena saat itu banyak peralatan pertukangan pak carik mengambil salah satu parang, karena mempertahankan diri bapak mengambil kapak.  Tidak ada satupun orang yang berani melerainya karena pak carik adalah orang yang sangat berkuasa didesaku setelah pak lurah. Sedangkan  pak carik adalah menantunya pak lurah. Yang masih kuingat adalah pelipis Bapak berdarah dan diobati dengan obat bubuk SA (Sulfiza Ariksa).

Itulah terakhir kali aku ingat wajah bapak. Karena setelah itu datang polisi menangkap bapak dengan tuduhan mau membunuh pak carik. Selanjutnya yang aku ingat aku dengan masku sering diajak emak membezuk bapak ditahanan dikota kabupaten. Karena keluarga kami miskin kami tidak punya kekuatan apa-apa. Sedangkan keluarga besar pak carik selain menantu dari pak lurah, adalah orang-orang yang cukup berada karena keturunan demang jaman Belanda.

Sampai pada suatu hari sehabis membezuk bapak, emak menangis sepanjang jalan. Ternyata bapak dikabarkan meninggal bunuh diri dengan menceburkan dirinya ke sumur di tahanan. Tapi dari dokter yang memeriksa jenazah bapak kami diberitahu, bahwa sesungguhnya bapak meninggal karena dianiaya ditahanan. Mungkin dokter itu bersimpati kepada keluarga kami sehingga beliau membocorkan rahasia itu.

Saat jenazah dibawa pulang kami keluarganya, tidak diperkenankan untuk membuka peti jenazah. Dari rumah sakit peti itu sudah dipaku, sehingga kami tidak bisa  melihat jasad bapak untuk yang terakhir kali. Dan anehnya tidak ada satu keluargapun yang berani memprotesnya. Bapak meninggal pada bulan Ramadhan tahun 1979 saat aku berumur 3 tahun. Aku masih ingat dengan jelas rentetan peristiwa itu.

Sepeninggal Bapak

Emak sangat terpukul dengan meninggalnya bapak, ditambah beban 3 orang anak yang masih kecil tentu saja sangat berat. Alhamdulillah beliau tidak berlama-lama tenggelam dalam kesedihan. Emak bertekad bahwa kami harus bisa sekolah dan menjadi “orang”. Tidak lagi dilecehkan seperti yang kami alami selama ini.

Selanjutnya dengan berat hati, emak menitipkan kami kepada simbah (nenek dari emak selanjutnya aku panggil mbah kulon karena rumahnya sebelah barat desa).  Ohya bapak dan emak berasal dari kampung yang sama. Selanjutnya emak memutuskan untuk pergi dari desa, selain untuk mencari uang juga untuk menghilangkan duka lara. Karena tidak punya keahlian memadai, emak memutuskan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Cerita mengenai emak mungkin aku ceritakan di lain kesempatan ya. Karena perjuangan beliau terlalu panjang kalau aku jadikan satu dengan ceritaku.

Selanjutnya aku hidup bersama mbah kulon, saat itu bersama mbah kulon juga tinggal paklik dan bulik yang belum menikah. Mata pencaharian mereka juga bertani. Selain itu mbah kulon juga  berdagang makanan dan kebutuhan sehari-hari. Tapi jangan dibayangkan toko yang besar, hanya warung kecil. Kadang modalnya juga habis buat menutupi kebutuhan sehari-hari. Kalau pagi mbah kulon berjualan bubur, nasi dan gorengan.

 Dulu di daerahku sering kalau orang hajatan pernikahan/sunatan malamnya mengundang reog/wayang orang/wayang kulit. Sering aku diajak mbah kulon berjualan makanan kecil dan minuman. Senang sekali kalau dagangan kami habis. Kadang sampai jauh ke tetangga desa. Ohya antar desa di tempatku biasanya dipisahkan bukit atau jurang. 

Hal paling menyenangkan sewaktu aku kecil adalah saat mbah kulon mengajakku ke pengajian. Saat itu di daerahku sering ada pengajian masal. Sampai ke desa yang jauh pun aku semangat ikut. Begitu pengajian usai, anak-anak yatim dikumpulkan, disuruh berjajar lalu dahi kami diusap satu persatu oleh peserta pengajian dan diberi uang hasil infak. Wah seperti dapat rejeki nomplok, lumayan bisa buat jajan hehe…..Yang juga berkesan aku sering dikasih uang oleh ibunya pak Carik dan pak Lurah (mertua pak Carik). Mungkin mereka kasihan aku jadi yatim gara-gara anaknya.

Karena  bapak dan emak sekampung, walaupun lebih banyak tinggal dengan mbah kulon sering juga aku ke simbah dari bapak (selanjutnya aku panggil mbah etan/karena rumahnya sebelah timur desa). Tapi yang aku rasakan kasih sayang mbah kulon lebih besar. Mbah etan selain bertani juga berdagang buah-buahan.

Waktu itu di daerah lereng gunung Merapi dan Merbabu masih banyak petani jeruk keprok. Sering aku dan masku diajak simbah rame-rame dengan paklik dan bulik berjalan kaki ke desa-desa di lereng gunung membeli jeruk dari petani. Lumayan jauh kami berjalan, sering aku mengeluh kok tidak sampai-sampai ya? mana jalannya naik terus. Sedangkan kakiku sepertinya sudah mau patah.

Paling senang kalau sudah selesai memanen jeruk. Biasanya jeruk yang cacat kami makan rame-rame. Pulangnya terasa cepat karena jalannya turun. Biasanya keesokan harinya hasil panenan itu dijual ke pasar Salatiga. Setelah jeruknya terjual, biasanya mbah Etan mengajak kami jajan nasi bungkus di warung langganan di pasar Salatiga. Sampai sekarang kalau lewat Salatiga aku selalu teringat masa-masa itu.

 


60 CommentsChronological   Reverse   Threaded
enkoos wrote on Jan 6, '07
Mbak Budi orang Jateng tho? Sama dengan moyang bapakku kalau gitu.
Ceritanya mengharukan
banyumili wrote on Jan 8, '07
enkoos said
Mbak Budi orang Jateng tho? Sama dengan moyang bapakku kalau gitu.
Ceritanya mengharukan
iya mbak, kalo aku ingat masa lalu juga suka tidak kebayang bisa melewatinya. Alhamdulillah.
enkoos wrote on Jan 10, '07
iya mbak, kalo aku ingat masa lalu juga suka tidak kebayang bisa melewatinya. Alhamdulillah.
Untung dah lewat ya. Tapi dengan mengalami masa2 pahit, biasanya kita jadi lebih bisa bersyukur. Aku juga pernah ngalami masa2 disaster, bertubi tubi dan memporak porandakan hidupku saat itu. Nggak kebayang akhirnya bisa bangkit, berkat pertolongan Allah. Sekarang jadinya Insya Allah gampang bersyukur.
bundaicha wrote on Jan 24, '07
Bu, sejak dulu kita berteman sampai sekarang walaupun dirimu nun jauh di sana dan kita pun ngga pernah bertemu..hampir 14tahun!Jujur aku baru tahu kisah hidupmu yang detail setelah aku baca ini, perasaanku ngga karu2an baca kisahmu, seakan-akan kok aku ikut merasakan ya..Salam hormat dan sayang buat Emak yang tabah, kuat dan teguh membawa anak-anaknya yang kini berhasil jadi "orang", betapa bangganya Emak sekarang Bu, melihat Bu Budi dan tentunya Mas Budi (yang aku juga sangat kenal dengannya).Do'aku untuk semua ya Bu, keluargamu, keluarga Mas Budi, Emak diberi kesehatan, panjang umur, bahagia dunia akherat..amin..amin..
zahracan wrote on Jan 25, '07
Subhanallah, luar biasa ya perjuangannya. Mengharu biru nih bacanya .
banyumili wrote on Jan 25, '07, edited on Jan 25, '07
Bu, sejak dulu kita berteman sampai sekarang walaupun dirimu nun jauh di sana dan kita pun ngga pernah bertemu..hampir 14tahun!Jujur aku baru tahu kisah hidupmu yang detail setelah aku baca ini, perasaanku ngga karu2an baca kisahmu, seakan-akan kok aku ikut merasakan ya..Salam hormat dan sayang buat Emak yang tabah, kuat dan teguh membawa anak-anaknya yang kini berhasil jadi "orang", betapa bangganya Emak sekarang Bu, melihat Bu Budi dan tentunya Mas Budi (yang aku juga sangat kenal dengannya).Do'aku untuk semua ya Bu, keluargamu, keluarga Mas Budi, Emak diberi kesehatan, panjang umur, bahagia dunia akherat..amin..amin..
Maturnuwun Bun,apresiasinya...salam buat emak nanti aku sampaikan. Walau dari dulu kita dekat, tapi aku rasa belum saatnya aku cerita siapa aku sebenarnya. Bukan apa-apa Bun, karena aku masih berjuang...demi mewujudkan cita-cita emak. Mengantarkan anaknya bisa mandiri syukur-syukur bisa membantu oranglain. Terima kasih ya Bun atas persahabatan kita. Kau dan keluargamu bagai keluarga kedua buat aku dan mas Budi.
banyumili wrote on Jan 25, '07
Subhanallah, luar biasa ya perjuangannya. Mengharu biru nih bacanya .
Aku kalo ingat juga masih mem"biru" mbak Reiri, semoga bisa menjadi pelajaran bahwa hidup adalah perjuangan.
nurjanah wrote on Jan 25, '07
duh..mbak yati...terharu aku mbak....semoga menmbah kuat dan tegar ya...
banyumili wrote on Jan 26, '07
semoga menmbah kuat dan tegar ya...
Amien, maturmuwun doanya mbak Nung!
liavantsi wrote on Jan 27, '07
Touching mba...sampe terharu bacanya
banyumili wrote on Jan 27, '07
Touching mba...sampe terharu bacanya
Terima kasih apresiasinya mbak Lia. Semoga ada pelajaran yang bisa diambil ya.
hums07 wrote on Jan 29, '07
subhanallah mbak Yati...ceritanya mengharukan...betapa tegarnya mbak Yati...
banyumili wrote on Jan 29, '07
hums07 said
betapa tegarnya mbak Yati...
Karena emak tegar...maka aku juga terpacu untuk tegar Uni.
rikyyonathan wrote on Feb 26, '07
saya seharusnya, harus banyak bersyukur...........!!!!
banyumili wrote on Feb 26, '07
saya seharusnya, harus banyak bersyukur...........!!!!
Siippp itu baru Riky!!!
uriagustiono wrote on Jun 16, '07, edited on Jun 16, '07
mbak, saya gak bisa ngomong apa-apa...terharu mbak...saya jadi pengen tahu cerita lanjutannya gimana sampai akhirnya mbak Budi bisa ada di jepang sini...
banyumili wrote on Jun 17, '07
mbak, saya gak bisa ngomong apa-apa...terharu mbak...saya jadi pengen tahu cerita lanjutannya gimana sampai akhirnya mbak Budi bisa ada di jepang sini...
that's my real life along time a go mbak Uri, sekarang sudah menjadi mimpi. Walaupun mimpi buruk tapi banyak hikmah yang bisa diambil.
sakurazahro wrote on Jun 17, '07
saya juga harus banyak2 bersyukur.
seringkali syukur itu trlewat mbak.
terharu (tau sendiri aku ini gampang terharu)
Allah tau sampai mana batas kemampuan kita.
Allah tau mbak Budi pasti bisa melalui semua susah payah, peluh dan tangis hingga seperti sekarang.
ardiar wrote on Jun 18, '07, edited on Jun 18, '07
Tante Budi,what a story! terharu biru membacanya, sampai ikut menitikkan air mata..Moga kebenaran dapat terungkap atas perkenanNya Amin.
Yup, smoga qta semua makin hari makin bersyukur yha tante Budi
banyumili wrote on Jun 19, '07
Allah tau sampai mana batas kemampuan kita.
Allah tau mbak Budi pasti bisa melalui semua susah payah, peluh dan tangis hingga seperti sekarang.
Dulu, aku suka merasa putus asa dan dan sering bertanya pada diri sendiri " apakah ada masa depan buat aku?"
Hanya semata-mata karena belas kasih Allah, akhirnya kami sekeluarga bisa melewati semua itu Ret.
ppramono wrote on Aug 28, '07
Budi, aku baru baca ceritamu. Emak dan Embah-mu tentu bangga sekali yah pada kamu. Aku jadi salut membaca cerita hidupmu, Bud! :)
tehtina wrote on Oct 2, '07
*peluk m'Budi erattttt*
BarakaAllah !!!!!
drjulia wrote on Oct 2, '07
Mbak Budi... bener2 nangis bacanya...
Thanks ya Mbak dah berbagi cerita ini... buat aku sadar kalo kita gak boleh berhenti bersyukur dan selalu berbaik sangka ma Karunia Allah kepada kita..
vilimo wrote on Oct 2, '07
Mbak Budi...ceritanya sangat mengharukan..hugs...
3astwest wrote on Oct 2, '07
big hugs mba budi....
tiasafira wrote on Oct 2, '07
makasih udah mau berbagi cerita kekita-kita...Semoga Budi sekeluarga dan keluarga dikampung selalu ada dalam lindungan Allah SWT...Amin

Big Hugs...
wirdayanti wrote on Oct 2, '07
MasyaAllah.. Perjalanan kehidupan yg luar biasa Budi..

*Peluk Budi*
marienapayne wrote on Oct 2, '07
Trimakasih tuk berbagi kisah ya Mbak Budi...terharu banget baca nya, sekaligus marah dengan kebiadaban carik n orang2 di tahanan. Semua dach berlalu..tapi Tuhan nggak pernah buta dengan semua masalah. Segala perbuatan ada buah nya.
linagladman wrote on Oct 2, '07, edited on Oct 2, '07
Makasih udah share cerita masa lalunya ya ... asli nangis aku ....*peluk m'Budi erat2*
Sambil baca kulit ku merinding ngebayangin bapak (alm)-nya ... mempertahankan hidupnya ...
Aaaaarrrrggghhh orang kecil emang selalu jadi bulan2an orang2 yg berkuasa ....

Salam hormat buat emak yg pastinya sekarang sangat berbangga karena anak2nya sudah berhasil dan sukses. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi keluarga m'Budi.

BTW, aku punya beberapa temen dari boyolali juga ...
iniaku wrote on Oct 2, '07
terharu baca kisah hidupnya... terimakasih sudah mau sharing disini
semoga kesedihan dimasa lalu bisa menjadi pondasi keimanan yg kokoh utk lebih tabah dimasa sekarang dan akan datang, amin
wlzone wrote on Oct 2, '07
Ngga nyangka Mbak.. kisah hidupnya sedih.. hiks. * big hugs Mbak Budi *
nsneni wrote on Oct 2, '07
subhanallah..terharu..kaya baca cerpen aja mba....ga kebayang beratnya....,Alhamdulillah..janji Allah benar adanya ya mba, stelah satu kesulitan akan ada 2 kemudahan..*hugs*
siera2505 wrote on Oct 2, '07
Alhamdulillah Mba sekeluarga bisa melewati semua....
elsyesjournal wrote on Oct 2, '07
waaa terharu mbak Budi....:(...salam buat Emak dan si Mbah
haleygiri wrote on Oct 3, '07
Mbak... aku pengen duwe mbah ndeso jeee.. soale bapak ibuku dari Solo (kota) semua. Iki lagi golek-golek pemuda desa... wekekekeke....

Ceritanya mengharukan mbak! Kek sinetron... :D
deeyand wrote on Oct 3, '07
Mbak, kisah hidupnya seru banget... subhanallah. Apalagi yang tentang bapak, mengharukan. Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi Allah ya. Bole gitu buat kisah sejati di majalahku ;)
komycantik wrote on Oct 3, '07
waaaahhh ... jadi merinding bacanya, sedih banggets ...

*peluk buat Ibu Budi*
banyumili wrote on Oct 3, '07
ardiar said
Moga kebenaran dapat terungkap atas perkenanNya Amin.
Yup, smoga qta semua makin hari makin bersyukur yha tante Budi
Amien, semoga ya Jeng....
banyumili wrote on Oct 3, '07
Emak dan Embah-mu tentu bangga sekali yah pada kamu
akulahyang bangga pada emak dan embah Peter..karena beliaulah aku bisa sekolah dan mandiri.
banyumili wrote on Oct 3, '07
peyuukk juga teh Tina....
banyumili wrote on Oct 3, '07
Alhamdulillah kalau ada hikmah yang bisa diambil bu dokter.
banyumili wrote on Oct 3, '07, edited on Oct 3, '07
hugs juga mba Lina...
banyumili wrote on Oct 3, '07, edited on Oct 3, '07
big hugs juga buat mba Ratna..
ti2n wrote on Oct 3, '07
subhanallah..... perjalanan hidupku sangat berliku mbak...!
pasti Allah sayang padamu...

*hug*
banyumili wrote on Oct 3, '07
Semoga Budi sekeluarga dan keluarga dikampung selalu ada dalam lindungan Allah SWT...Amin

Big Hugs...
Amien terima kasih doanya Teteh..
big hugs juga...
banyumili wrote on Oct 3, '07
peluukkk juga Bundaa...
banyumili wrote on Oct 3, '07
Semua dach berlalu..tapi Tuhan nggak pernah buta dengan semua masalah. Segala perbuatan ada buah nya
benar sekali Mariana...Allah yang membalas semua-Nya karena kita tidak berdaya melawan kezaliman.
banyumili wrote on Oct 3, '07, edited on Oct 3, '07
peyuuk juga buat teh Lina, salamnya nanti saya sampaikan ya teh...duuh..saya mah biasa aja Teh...yang sukses adalah emak..terima kasih doanya ya Teh...semoga keluarag teteh juga selalu dalam lindungan Allah SWT.

tambah satu temannya dari boyolali dong...aku..*_*
banyumili wrote on Oct 3, '07
itulah harapanku mbak Sefa...aku bisa lebih bersyukur dan tidak kufur nikmat serta lebih kuat dalam menghadapi cobaan. Karena aku yakin tiap masa akan selalu ada cobaan hidup itu.
banyumili wrote on Oct 3, '07, edited on Oct 3, '07
hugs juga buat mba Welly...masih banyak yang lebih sedih dari aku mbak...
banyumili wrote on Oct 3, '07
iya mba Neni..aku baru percaya setelah melewatinya..dulu ya sering mengeluh...*_*
banyumili wrote on Oct 3, '07
berkat kemurahan Allah mba Eti...
banyumili wrote on Oct 3, '07
salamnya nanti disampaikan ya mbak Elsye...
banyumili wrote on Oct 3, '07
yo wis dolan neng seboto mbak..mbahku perempuan masih sugeng..pasti seneng nemu mantu koyo mbak Haley...kekekekekkk..akeh pemuda desoku sing isih bujang lho...tapi tani..gelem po???
banyumili wrote on Oct 3, '07
Amien , itu yang selalu aku panjatkan pada Allah untuk alm bapak mbak Dee...
Waah..terima kasih kalau berminat dimuat dimajalah tapi tulisannya masih berantakan nih...
banyumili wrote on Oct 3, '07
duuhh..senengnya dipeyukk mbak cantik...mauuu...
banyumili wrote on Oct 3, '07
dulu aku merasa Allah tidak sayang sama aku mbak...hug too...
nur4hini wrote on Oct 3, '07
peluk buat mbak budi...., ceritanya menyentuh.....jadi lebih kenal mbak budi setelah baca kisahnya....
andinirizky wrote on Oct 3, '07
seru ceritanya. sabar ya mbak ya (udah tabah kok ya)
makasih ^^
faoziahd wrote on Oct 3, '07
wah, ini bagian dari oral history yg di-MP-kan. makasih ceritanya Mbak Yati!
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help