Sebelum menceritakan tentang diriku, mohon maaf bila secara tidak sengaja ada pihak yang terlibat dalam perjalanan hidupku kurang berkenan dengan penuturan kisah ini. Mungkin di luasnya dunia yang terkadang terasa sempit, kita bertemu dengan orang-orang yang terkait dengan sejarah hidup kita. Di desa yang terletak di kaki gunung Merbabu. Seboto nama desaku, masuk kecamatan Ampel, kabupaten Boyolali. Desaku sangat indah dan selalu membangkitkan rasa rindu untuk pulang. Lokasi desaku amat terpencil sehingga tak ada dokter atau bidan di sana. Puskesmas terdekat kala itu ada di kota kecamatan yang harus ditempuh selama 3 jam dengan berjalan kaki karena belum ada angkutan umum. Terpaksa kelahiranku dibantu oleh dukun beranak di Seboto
.
Alhamdulillah aku lahir dengan selamat sebagai anak kelima dari lima bersaudara, satu-satunya anak perempuan. Saudara tertua adalah saudara tiri seayah, saudara kandungku sendiri yang nomor dua dan tiga meninggal saat masih bayi. Oleh bapak, aku diberi nama Budiyati
Bapak dan emak bekerja sebagai petani yang menggarap ladang pembagian dari kakek. Kata salah seorang tetangga, ketika aku berumur 1 hingga 2 tahun, aku sering diajak ke ladang oleh emak, ditaruh dalam tomblok (bakul). Katanya juga, aku termasuk anak yang merepotkan dan nakal. Merepotkan dan nakal seperti apa, aku sendiri tidak tahu, mungkin maksudnya pintar dan aktif
Masa kecil yang sempat terekam memoriku adalah ketika aku kira-kira mulai berumur 2 tahun . Aku sering diajak bapak ke kebun mencari gangsir (belalang tanah) untuk dibakar sebagai tambahan menu makan siang. Tapi bagaimana rasanya gangsir bakar itu , sekarang aku sudah lupa Sering juga bapak mengajak kami membuat sarapan nasi jagung goreng yang dicampur dengan telur angsa peliharaan kami.
Ya, nasi jagung yang dicampur dengan sampal (ampas ganyong) adalah menu kami sehari-hari. Kalaupun kami makan beras adalah beras gogo yang juga dicampur dengan jagung. Itu sudah menu mewah buat kami. Sedangkan lauknya cukup dengan daun singkong rebus dan sambal tahu dimana sambalnya itu dibuat dari tempe yang sudah dibusukkan. Kalau yang ini masih jadi menu favoritku. Sampai-sampai saat aku hamil, mengidam minta dikirimin tempe busuk kering dari Indonesia 
Hanya itu kebersamaan dengan bapak yang terekam dalam benakku, sampai pada suatu hari datanglah musibah menimpa keluargaku. Saat itu rumahku yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan masih menyatu dengan rumah simbah dari bapak, oleh bapak ingin dipisah. Karena simbah putri dari bapak ini terkenal galak (maafkan cucumu mbah….
) kadang suka membuat emak tersinggung.
Waktu itu desaku walaupun dikaki gunung merbabu yang airnya melimpah, karena belum tersentuh pembangunan dan hanya mengandalkan swadaya masyarakat untuk mengalirkan air dari gunung, hanya ada satu pipa yang dialirkan ke bak penampungan besar.Untuk mandi dan mencuci biasanya kami kesungai dipinggir desa yang airnya sangat jernih dan banyak ikannya
.
Kembali ke rencana bapak memisahkan rumah kami dengan rumah simbah. Kebiasaan di desaku kalau ada yang mau memperbaiki rumah adalah dengan bergotongroyong. Malam harinya bapak mencoba mengalihkan aliran air ke rumah. Celakanya bapak tidak tahu kalau saat itu airnya sedang dialirkan ke rumah pak Carik (sekretaris desa). Yang ternyata menurut cerita keluargaku antara pak carik dan bapak sudah ada masalah dari muda (sebetulnya aku juga diceritain bagaimana ceritanya tapi nanti malah menceritakan biografi Bapakku
).
Pagi harinya saat bapak, saudara dan tetangga sedang memindahkan dan membetulkan rumah, datanglah pak carik memaki-maki Bapak. Karena telah memutuskan aliran air kerumahnya. Aku yang masih kecil melihat tapi tidak mengerti apa yang terjadi. Mungkin karena tidak bisa mengendalikan emosi mereka berkelahi. Karena saat itu banyak peralatan pertukangan pak carik mengambil salah satu parang, karena mempertahankan diri bapak mengambil kapak. Tidak ada satupun orang yang berani melerainya karena pak carik adalah orang yang sangat berkuasa didesaku setelah pak lurah. Sedangkan pak carik adalah menantunya pak lurah. Yang masih kuingat adalah pelipis Bapak berdarah dan diobati dengan obat bubuk SA (Sulfiza Ariksa)
.
Itulah terakhir kali aku ingat wajah bapak. Karena setelah itu datang polisi menangkap bapak dengan tuduhan mau membunuh pak carik. Selanjutnya yang aku ingat aku dengan masku sering diajak emak membezuk bapak ditahanan dikota kabupaten. Karena keluarga kami miskin kami tidak punya kekuatan apa-apa. Sedangkan keluarga besar pak carik selain menantu dari pak lurah, adalah orang-orang yang cukup berada karena keturunan demang jaman Belanda
.
Sampai pada suatu hari sehabis membezuk bapak, emak menangis sepanjang jalan. Ternyata bapak dikabarkan meninggal bunuh diri dengan menceburkan dirinya ke sumur di tahanan. Tapi dari dokter yang memeriksa jenazah bapak kami diberitahu, bahwa sesungguhnya bapak meninggal karena dianiaya ditahanan. Mungkin dokter itu bersimpati kepada keluarga kami sehingga beliau membocorkan rahasia itu.
Saat jenazah dibawa pulang kami keluarganya, tidak diperkenankan untuk membuka peti jenazah. Dari rumah sakit peti itu sudah dipaku, sehingga kami tidak bisa melihat jasad bapak untuk yang terakhir kali. Dan anehnya tidak ada satu keluargapun yang berani memprotesnya. Bapak meninggal pada bulan Ramadhan tahun 1979 saat aku berumur 3 tahun. Aku masih ingat dengan jelas rentetan peristiwa itu.
Sepeninggal Bapak
Emak sangat terpukul dengan meninggalnya bapak, ditambah beban 3 orang anak yang masih kecil tentu saja sangat berat. Alhamdulillah beliau tidak berlama-lama tenggelam dalam kesedihan. Emak bertekad bahwa kami harus bisa sekolah dan menjadi “orang”. Tidak lagi dilecehkan seperti yang kami alami selama ini.
Selanjutnya dengan berat hati, emak menitipkan kami kepada simbah (nenek dari emak selanjutnya aku panggil mbah kulon karena rumahnya sebelah barat desa). Ohya bapak dan emak berasal dari kampung yang sama. Selanjutnya emak memutuskan untuk pergi dari desa, selain untuk mencari uang juga untuk menghilangkan duka lara. Karena tidak punya keahlian memadai, emak memutuskan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Cerita mengenai emak mungkin aku ceritakan di lain kesempatan ya. Karena perjuangan beliau terlalu panjang kalau aku jadikan satu dengan ceritaku.
Selanjutnya aku hidup bersama mbah kulon, saat itu bersama mbah kulon juga tinggal paklik dan bulik yang belum menikah. Mata pencaharian mereka juga bertani. Selain itu mbah kulon juga berdagang makanan dan kebutuhan sehari-hari. Tapi jangan dibayangkan toko yang besar, hanya warung kecil. Kadang modalnya juga habis buat menutupi kebutuhan sehari-hari. Kalau pagi mbah kulon berjualan bubur, nasi dan gorengan.
Dulu di daerahku sering kalau orang hajatan pernikahan/sunatan malamnya mengundang reog/wayang orang/wayang kulit. Sering aku diajak mbah kulon berjualan makanan kecil dan minuman. Senang sekali kalau dagangan kami habis. Kadang sampai jauh ke tetangga desa. Ohya antar desa di tempatku biasanya dipisahkan bukit atau jurang.
Hal paling menyenangkan sewaktu aku kecil adalah saat mbah kulon mengajakku ke pengajian. Saat itu di daerahku sering ada pengajian masal. Sampai ke desa yang jauh pun aku semangat ikut. Begitu pengajian usai, anak-anak yatim dikumpulkan, disuruh berjajar lalu dahi kami diusap satu persatu oleh peserta pengajian dan diberi uang hasil infak. Wah seperti dapat rejeki nomplok, lumayan bisa buat jajan hehe…..Yang juga berkesan aku sering dikasih uang oleh ibunya pak Carik dan pak Lurah (mertua pak Carik). Mungkin mereka kasihan aku jadi yatim gara-gara anaknya.
Karena bapak dan emak sekampung, walaupun lebih banyak tinggal dengan mbah kulon sering juga aku ke simbah dari bapak (selanjutnya aku panggil mbah etan/karena rumahnya sebelah timur desa). Tapi yang aku rasakan kasih sayang mbah kulon lebih besar. Mbah etan selain bertani juga berdagang buah-buahan.
Waktu itu di daerah lereng gunung Merapi dan Merbabu masih banyak petani jeruk keprok. Sering aku dan masku diajak simbah rame-rame dengan paklik dan bulik berjalan kaki ke desa-desa di lereng gunung membeli jeruk dari petani. Lumayan jauh kami berjalan, sering aku mengeluh kok tidak sampai-sampai ya? mana jalannya naik terus. Sedangkan kakiku sepertinya sudah mau patah.
Paling senang kalau sudah selesai memanen jeruk. Biasanya jeruk yang cacat kami makan rame-rame. Pulangnya terasa cepat karena jalannya turun. Biasanya keesokan harinya hasil panenan itu dijual ke pasar Salatiga. Setelah jeruknya terjual, biasanya mbah Etan mengajak kami jajan nasi bungkus di warung langganan di pasar Salatiga. Sampai sekarang kalau lewat Salatiga aku selalu teringat masa-masa itu.